Pentas Revitalisasi Seni Ujungan Kabupaten Purbalingga di Griya Seni Katamas Desa Karangtalun

Ujungan merupakan adu manusia dengan properti berupa sebatang rotan. Pelaku ujungan adalah laki-laki dewasa yang memiliki kekuatan untuk menahan gempuran pukulan lawan.

Sebelum beradu pukul, pemain ujungan menari-nari dengan iringan tepuk dan sorak-sorai penonton. Ritual ini hanya dilaksanakan pada saat terjadi kemarau panjang,

Di Kabupaten Purbalingga, Seni Ujungan sedang direvitalisasi agar menjadi seni pertunjukan yang tak usang oleh jaman

Seni rakyat ini, biasanya dilaksanakan pada akhir mangsa Kapat (pranata mangsa Jawa) atau sekitar bulan September. Dalam tradisi masyarakat Banyumas, ujungan dilakukan dalam hitungan ganjil misalnya satu kali, tiga kali, lima kali atau tujuh kali.

Apabila sekali dilaksanakan ujungan belum turun hujan maka dilaksanakan tiga kali. Jika dilaksanakan tiga kali belum turun hujan maka dilaksanakan sebanyak lima kali. Demikian seterusnya hingga turun hujan. Ujungan masih berkembang di wilayah perbatasan kabupaten Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara, antara lain di wilayah Kecamatan Somagede (Kabupaten Banyumas), Kecamatan Susukan (Kabupaten Banjarnegara), dan Kecamatan Kemangkon (Kabupaten Purbalingga).

Ujungan dilaksanakan dengan tujuan untuk memohon kepada Sang Penguasa Alam Semesta akan datangnya hujan demi kelestarian hidup warga masyarakat. Ujungan dilakukan oleh dua orang pria yang masing-masing membawa senjata berupa sebatang rotan dengan panjang kurang lebih 60 centi meter (cm).

Rotan digunakan untuk memukul lawannya dengan sasaran mulai dari pusar kebawah. Pertarungan dipimpin oleh seorang wasit yang disebut wlandang. Satu ronde pertarungan disebut satu pajon. Di dalam satu pajon inilah para peraga ujungan bertarung dengan lawannya hingga ada salah satu yang dinyatakan kalah. Masyarakat setempat percaya bahwa semakin banyak darah yang keluar di arena pertarungan maka hujan akan semakin cepat turun.

Disisi lain ujungan juga merupakan bentuk upacara ritual tradisional. Justru motivasi utama diselenggarakannya ujungan adalah dalam rangka memohon datangnya hujan kepada Sang Pencipta. Aktivitas visual yang dapat  isaksikan dalam penyelenggaraan ujungan lebih sekedar sabagai sarana ungkap ekspresi kejiwaan yang proses tujuannya adalah hubungan ritual antara manusia dengan Tuhan yang ditujukan demi kelestarian hidup di dunia.
Dalam penyelenggaraan ujungan, peran serta penonton menjadi keberhasilan dikarenakan adanya semangat dan dukungan, di sisi lain penyelenggaraan ujungan dianggap berhasil apabila segera turun hujan yang membasahi tanah pertanian dan sumber air sebagai usaha bagi kelestarian hidup masyarakat setempat.

Oleh karena itu tiap-tiap peraga ujungan dalam pertarungannya tidak sekedar mempertaruhkan kekuatan fisik dan harga diri, melainkan juga melapisi dirinya dengan kekuatan-kekuatan gaib agar mampu mengalahkan lawan.
Sebelum mengikuti ujungan para peraga terlebih dahulu melakukan berbagai macam rialat (laku batin dengan cara mengurangi makan dan tidur) seperti tirakat, puasa, ngrawot, ngebleng, dan mutih.

Suatu hal yang menarik dalam penyelenggaraan ujungan di dalamnya mengandung tiga unsur sekaligus dalam satu waktu, yaitu aktivasi seni, olahraga beladiri, dan upacara ritual minta hujan. Ujungan adalah aktivasi seni gerak yang dilakukan di lapangan terbuka dengan peraga berjenis kelamin pria.

Melalui aktivitas ujungan para peraga mengungkapkan pengalaman estetisnya melalui bentuk-bentuk gerak spontan yang diiringi oleh tepuktangan dan sorak penonton yang mengelilinginya arena pertunjukan. Oleh karena itu ujungan selain sebagai sarana ekspresi estetis juga dapat berfungsi sebagai sarana aktualisasi diri seseorang di lingkungan sosialnya.

Berbeda dengan yang diungkapkan (Wahyu, 2000:3) bahwa ujungan merupakan ritual tradisi yang menggabungkan tiga jenis seni yaitu seni musik (sampyong), seni tari silat (uncul) dan seni bela diri tongkat (ujungan). Keistimewaan lain yang terdapat pada tradisi ujungan ialah terdapatnya sikap menjujung tinggi nilai sportivitas, persaudaraan, rasa  nasionalisme dan semangat patriotisme sebagai generasi penerus bangsa.
Ujungan dapat dikategorikan olahraga beladiri karena dilakukan dengan mengandalkan kekuatan fisik dan pada akhir ronde (pajon) dinyatakan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ujungan merupakan bentuk olahraga beladiri tradisional yang menampilkan perang tanding satu lawan dengan dipimpin oleh seorang wlandang. Satu hal yang sangat bernuansa sportif adalah sekalipun di gelanggang pertarungan masing-masing peraga berusaha mengalahkan lawan, setelah di luar arena tidak terjadi dendam di antara mereka

Anda bisa melihat pentas lengkapnya melalui link dibawah ini PAGELARAN REVITALISASI UPACARA ADAT UJUNGAN DINDIKBUD KABUPATEN PURBALINGGA

https://youtu.be/bMXliIkSPEc

Foto bersama di sebelah rimbunnya pohon Telang
Mengabadikan momen indah di bawah papan nama Griya Wanita Tani Katamas
Menikmati menu makanan dan minuman herbal di Cafe Sambung Nyawa Katamas
Sebelum pamit, berforo bersama dengan latar belakang Cafe Sambung Nyawa Katamas

Anda semoga sepaham dengan Pemerintah Desa Bringin, yang di tahun 2020 mengagendakan kegiatan studi banding dalam rangka peningkatan kapasitas masyarakatnya. Banyak hal yang bisa dipelajari dari tempat lain, sesuatu yang sering teramat sulit dilakukan di desa kita, akan menjadi tidak sukar untuk dilakukan di desa yang lain. Proses mengamati, tiru dan modifikasi bisa menjadi salah satu strategi cepat, mudah dan murah dalam rangka membangun desa kita.

Itulah yang dilakukan Pemdes Bringin Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara yang telah melaksanakan studi banding bersama kelembagaan desanya, pada tanggal 19 Desember 2020 di Katamas (Kampung Wisata Tematik Sikadut) Desa Karangtalun Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga.

Foto Bersama berlatar Sanggar Seni Giri Sidubajan, Griya Seni Katamas

Tentu saja kunjungan sejumlah 50 orang dari Jepara ini, menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat dalam rangka menyikapi adanya penyebaran virus Covid 19, sesuatu yang membuat acara kunjungan ini harus melalui tahapan dan perlakuan yang telah ditentukan pemerintah.

Kegiatan studi banding ini diawali dengan paparan dari Kepala Desa Karangtalun, Bapak Heru Catur Wibowo dan General Manajer Katamas Bapak Misroni, bercerita banyak tentang teknik sederhana membangun desa berbasis masyarakat. Bagaimana masyarakat bisa guyub rukun membangun mimpinya secara bersama-sama. Bagaimana dengan uang yang sangat terbatas, mampu membangun Katamas yang berbasis nilai dan produk. Bagaimana wisata tidak dimaknai sederhana sebagai sebuah keindahan belaka, tetapi tentang hakekatnya sebagai prime mover ekonomi. Bagaimana nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga dan justru terbangun dan menjadi perubah paradigma positif masyarakatnya. Sebuah inisisasi konsep wisata berbasis story nomic dan story telling tourism. Konsep dan pendekatan baru di bidang pariwisata yang berbasis pada nilai.

Paparan dan menikmati sajian pembuka di Griya Papringan Katamas

Setelah paparan, peserta studi banding berkunjung kepada griya-griya yang ada di Katamas dengan didampingi Local Guide (Pemandu Lokal) dari Dusun Sikadut yang sudah bersertifikat pemandu wisata kelas propinsi.

Berfoto sejenak di bawah Papan Penunjuk Arah Griya Katamas
Kunjungan bidang pertanian di Griya Wanita Tani Katamas
Berkunjung di Griya Cupang Katamas

Terima kasih atas kunjungannya, selain berharap akan berkunjung kembali di lain waktu, kami berharap kunjungan dan studi banding ini bermanfaat dalam bersama membangun desa.

Mohammad Hata pernah berujar, Indonesia akan terang, bukan oleh nyala lampu besar di kota, tetapi oleh lilin-lilin kecil di desa.

Sebagai bentuk upaya berkelanjutan dalam memberi pemahaman akan bahaya peredaran rokok ilegal di tengah masyarakat sekaligus menjelaskan manfaat dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), Bea Cukai menggandeng instansi pemerintah di berbagai daerah dalam memberikan edukasi tersebut.

Fokus utama sosialisasi ini adalah untuk mengenalkan kepada para pedagang, wirausaha, dan Satpol PP tingkat kecamatan akan ciri-ciri dan dampak dari penjualan rokok ilegal.

Tidak ketinggalan Bea Cukai Purwokerto bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Purbalingga turut memberikan penyuluhan di bidang cukai pada Selasa (24/11). Sosialisasi secara langsung dilaksanakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dilangsungkan di Griya Papringan Katamas (Kampung Wisata Tematik Sikadut), Dusun Sikadut, Desa Karangtalun, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga.

“Kami berupaya menjelaskan ciri rokok ilegal, desain pita cukai, tata cara pelekatan pita cukai pada rokok maupun minuman keras, cara identifikasi pita cukai secara kasat mata, serta apa itu DBHCHT,” ungkap Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan, Erwan Saepul Holik.

Selain itu Gunanto Eko Saputra dari Bagian Perekonomian Setda Purbalingga turut menjelaskan sejarah tembakau di Kabupaten Purbalingga serta porsi DBHCHT yang nominalnya sebesar 6,9M untuk Kabupaten Purbalingga. “Porsi DBHCHT di Kabupaten Purbalingga merupakan pungutan cukai atas rokok yang bapak ibu jual atau beli dan digunakan sebagian besar untuk membeli obat-obatan yang nantinya didistribusikan ke rumah sakit dan puskesmas” kata Gunanto.

Cafe ini baru dibuka, menjadi bagian dari terus tumbuh berkembangnya usaha cafe di Kabupaten Purbalingga. Cafe yang terletak di Dusun Sikadut Desa Karangtalun Kecamatan Bobotsari ini, menawarkan sajiandan nuansa baru. Ia menawarkan kepada kita sesuatu yang berbau herbal, ada minuman herbal, makanan herbal, ramuan herbal dan tanaman herbal. Anda bisa membeli semuanya atau membeli salah satu dari yang ditawarkan cafe ini.

Cafe ini bernama Cafe Sambung Nyawa. Namanya diambil dari salah satu tanman herbal yaitu pohon sambung nyawa, yang banyak tumbuh di Desa Karangtalun. Cafe ini juga menjadi salah satu pemantik dan penunjuang keberadaan Katamas atau Kampung Wisata Tematik Sikadut. Ia menjadi tempat nongkrong berbagai kalangan masyarakat khususnya anak muda sekitar. Pada saat tertentu menjadi tempat berkunjung kalangan birokrasi Pemerintah Kabupaten Purbalingga.

Kunjungan Bapak Camat Bobotsari di Cafe Sambung Nyawa Katamas

Jika akan ke sana, Anda akan menjumpainya dengan mudah, berada di sebelah utara jalan masuk ke Katamas. Terlihat dengan jelas bentuk segitiga besar di pinggiran jalan.

Kunjungan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga di Cafe Sambung Nyawa Katamas

Selamat mencoba, tak hanya kenyang yang didapat, tetapi juga jelas tambah sehat, dengan harga yang tentunya sangat bersahabat.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dissnakertrans) Provinsi Jawa Tengah telah memfasilitasi Pelatihan Tour Guide kepada 3 (tiga) pengelola Katamas yaitu Bangkit Rifai, Anisa Risti dan Ayu. Pelatihan dilaksanakan dari tanggal 25 November – 12 Desember dan 26 November – 5 Desember.

Pelatihan tersebut sebagai dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap pengembangan pariwisata daerah, sekaligus dalam rangka peningkatan SDM pengelola Katamas agar dapat memberi layanan terbaik kepada wisatawan yang berkunjung ke Kampung Wisata Tematik Sikadut (Katamas).

Pemandu wisata/Pramuwisata atau kerap disebut tour guide merupakan profesi di bidang pariwisata. Pemandu wisata bertanggung jawab mendampingi wisatawan dan memberikan petunjuk serta bimbingan kepada wisatawan.Kalau menjadi pemandu wisata, Kita harus mampu menjelaskan seluk beluk tempat-tempat yang dikunjungi saat perjalanan wisata. Pemandu wisata juga bisa membantu keperluan wisatawan lainnya. Biasanya pemandu wisata berasal dari daerah wisata yang bersangkutan.


 Pramuwisata (guide) pada hakekatnya adalah seseorang yang menemani, memberikan informasi dan bimbingan serta saran kepada wisatawan dalam melakukan aktivitas wisatanya. Aktivitas tersebut, antara lain mengunjungi objek dan atraksi wisata, berbelanja, makan di restoran, dan aktivitas wisata lainnya dan untuk itu ia mendapatkan imbalan tertentu.

Komunitas Ketjilbergerak merupakan komunitas kreatif anak muda yang berbasis pendidikan, menggunakan metode seni dalam pendekatannya kepada masyarakat serta dilakukan secara kolaboratif dan independen.

Signifikansi dari Ketjilbergerak hingga dapat menarik perhatian mahasiswa Yogyakarta karena komunitas Ketjilbergerak memiliki 3 kolaborasi, yaitu pendidikan, seni, dan warga. Komunitas ini juga mempunyai slogan “Siapa saja yang muda, kreatif, berani, berdikari adalah ketjilbergerak!”

Ketjilbergerak terbentuk tahun 2006 yang beranggotakan 2 orang yaitu Vani dan Greg, berawal dari menulis zine13 (buku) tentang pendidikan yang ada di Indonesia.Karena banyak yang tertarik membaca zine tersebut, akhirnya pendiri ketjilbergerak mengadakan diskusi tentang tulisan-tulisan yang telah dibuat dan didatangi oleh mahasiswa dari berbagai jurusan selama satu tahun. Tahun 2007 pendiri mengadakan pameran seni dan musik tunggal selama 4 tahun hingga pendiri memutuskan untuk berkolaborasi dengan seniman musik di Yogyakarta.


Di akhir 2011 ketika Ketjilbergerak membuat pameran di Kersan banyak yang datang untuk melihat pameran yang diselenggarakan, sehingga banyak yang tertarik bergabung dalam Ketjilbergerak karena keingintahuan pemuda untuk mempelajari seni-seni yang dihasilkan Ketjilbergerak. Berawal dari banyaknya pemuda yang ingin bergabung dalam Ketjilbergerak, pendiri Ketjilbergerak memutuskan untuk menjadikan komunitas Ketjilbergerak bersifat terbuka. Tahun 2012 pertama kalinya Ketjilbergerak dan pemuda yang bergabung Ketjilbergerak membuat mural di daerah Yogyakarta dengan gambar pahlawan sebagai ikonnya

Jaringan sosial Ketjilbergerak bekerjasama dengan KPK untuk mengadakan acara dengan pemuda, universitas-universitas, serta Ketjilbergerak juga mempunyai jaringan kampung, dan jaringan desa

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melatih 60 pemuda dari 20 desa di 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah dalam program bertajuk “Sekolah Pemuda Desa”, melalui program ini para pemuda paham bagaimana cara berpartisipasi dalam mengawal dana desa dan memberikan manfaat dalam mendorong pembangunan desa yang sesuai dengan kebutuhan dan peruntukan dana desa.

Untuk menjadi peserta, ke-60 pemuda desa tersebut disyaratkan berusia antara 17 – 30 tahun. Mereka juga harus mengirimkan proposal berbentuk tulisan atau video yang berisi tentang potensi, permasalahan, serta usulan dan gagasan untuk membangun desa khususnya terkait pemanfaatan dan pengelolaan dana desa

Dua orang pemuda darii Dusun Sikadut Desa Karangtalun adalah peserta dari Sekolah Pemuda Desa 2020 dengan membawa tema tentang Kampung Wisata Tematik Sikadut (Katamas)

Peserta workshop teater yang digelar oleh Komunitas Teater Sastra Perwira (Katasapa) Purbalingga, mementaskan cerita rakyat berjudul “Watu Lawang”. Pentas digelar di Griya Seni Giri Sidubajan Kampung Wisata Tematik Sikadut (Katamas) Desa Karangtalun, Kecamatan Bobotsari dan disiarkan secara live di kanal YouTube Misbar Purbalingga, Selasa (24/11) pukul 20.00 WIB.

Ketua Katasapa Purbalingga, Ryan Rachman mengatakan, pentas tersebut merupakan rangkaian dari workshop teater yang digelar Katasapa melalui Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) Dirjen Kebudyaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI Tahun 2020.

“Para peserta workshop dibagi menjadi empat kelompok. Mereka kemudian membawakan pentas dengan lakon bermuatan cerita atau legenda lokal yang berkembang di Purbalingga. Pentas dibawakan menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumasan sebagai bentuk pelestarian dan pengenalan budaya kepada generasi muda. Setelah workshop, peserta membuat naskah berdasarkan cerita rakyat yang ada, disutradarai, berlatih dan dipentaskan,” terangnya.

Pementasan pertama membawakan lakon berjudul “Watu Lawang” karya dan sutradara Suparyadi. Lakon ini berkisah tentang Adipati Tangkisan yang akan menyunati anaknya, namun dia malu karena pendapa yang sempit dan jelek. Dia lalu pergi ke tempat kakaknya, Adipati Pekuncen untuk meminjam pendapaya yang bagus dan megah. Namun begitu pulang dari tempat kakaknya, dia lupa meminjam.

Akhirnya, Adipati Tangkisan meminta bantuan makhluk halus untuk memindah pendapa itu. Pesta sunatan pun berjalan dengan meriah. Usai pesta, pendapa pun dikembalikan lagi, namun salah satu pintunya terjatuh. Adipati Pekuncen yang baru tiba di rumah pun dibuat geger ketika mendapati pintu pendapa hilang.

Suatu hari, seorang petani mengadu ke Adipati Tangkisan karena sawah kering akibat tidak ada air yang mengalir dari sungai. Setelah dicek, ternyata jalur air yang berasal dari Pekuncen itu tertutup pintu pendapa yang terjatuh. Adipati Tangkisan berusaha mengambil pintu itu, namun tidak berhasil.

Adipati Tangkisan pun datang ke rumah kakaknya dan menceritakan apa yang dialami. Kakaknya pun membantu mengambil pintu itu, namun tetap saja sulit. Akhirnya diputuskan untuk membuat saluran air baru di sekitar tempat tersebut. Dari situlah, tempat itu dinamakan Watu Lawang.

Kepala Desa Karangtalun, Heru Catur Wibowo memberikan apresiasi yang berkenan pentas di Karangtalun. Pihaknya sangat terbuka bila ada kelompok kesenian pentas di tempatnya. Dia berharap masyarakat Karangtalun bisa bersama-sama melestarikan seni budaya tradisi.”Ada tiga kesenian yang regenerasi, genjring, kothekan dan kuda kepang. Bisa dikonsumsi masyarakat di era sekarang,” katanya.

Dengan adanya pementasan dari Katasapa tersebut, dia berharap bisa menjadi ajang belajar bagi warganya tentang seni pertunjukan teater. Dimulai dari melihat, bediskusi dan nantinya akan muncuk kelompok seni peran di desanya.

Pementasan malam tersebut dilaksanakan secara terbatas dan hanya disaksikan tak lebih dari 40 penonton dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Misbar Purbalingga. Panitia menerapkan protokol kesehatan yang ketat, penonton terlebih dulu mencuci tangan dengan sabun, dicek suhu badan dan wajib mengenakan masker.

Sumber Tulisan : Joko Santoso – Wawasan